Jumat, 08 Agustus 2014

Artikel - Merasa Hebat

        Ada orang yang merasa dirinya hebat, karena sudah sangat yakin bahwa setelah meninggal dunia akan terlahir di alam surga, mungkin setelah melalui upacara yang khusus diadakan untuk itu, yakin bahwa dosanya sudah tercuci bersih tanpa sisa, keyakinan seperti ini termaksud waham atau bukan yah ??

       setelah itu sikapnya menjadi rada aneh, melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya, menurutnya mereka pasti akan terlahir di neraka jahanam, hidup bersama para setan dan iblis dengan senyumnya yang datar, yah semacam senyum diplomat, tidak ada muatan emosi, tiada kehangatan, dingin membeku seperti es di kutup selatan :D

       Dalam pikirannya ia merasa benar sendiri, konsep orang lain tidak sebaik konsep yang dibuat olehnya.
sesungguhnya tidak ada orang yang bisa meramal hari depan dengan pasti, surga dan neraka masih jauh, tidak usah dipikirkan sekarang

       Mungkin yang paling takabur adalah orang yang berani menjanjikan surga kepada orang lain, padahal dirinya sendiri belum tentu masuk surga .


Sumber : Setitik cahaya di balik kabut 9

Cerita Jataka - UCCHAṄGA-JĀTAKA

“Seorang putra mudah didapatkan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang wanita desa. Suatu waktu di Kosala, terdapat tiga orang pria yang sedang membajak (tanah) di pinggiran sebuah hutan, bersamaan itu, para perampok menjarah penduduk di dalam hutan itu dan melarikan diri.  Para korban tiba, dalam pencarian tanpa hasil terhadap para penjahat, di tempat ketiga orang ini yang sedang membajak (tanah). “Inilah para perampok hutan itu, yang menyamar sebagai petani,” seru mereka, dan menangkap ketiga orang itu sebagai tahanan kepada Raja Kosala. Setelah beberapa waktu, datanglah seorang wanita ke istana raja, yang dengan ratapan yang keras, memohon, “Berikan pakaian (pelindung).” Mendengar ratapannya, raja memerintahkan agar sebuah pakaian diberikan kepadanya; tetapi ia menolaknya, dengan mengatakan bahwa bukan itu yang ia maksudkan. Maka pelayan raja menghadap raja dan mengatakan bahwa apa yang diinginkan wanita itu bukan pakaian, tetapi seorang suami.
Lantas raja menyuruh agar wanita itu dibawa ke hadapannya dan menanyakannya apakah benar yang ia maksudkan adalah seorang suami.
“Benar, Maharaja,” jawabnya, “karena seorang suami adalah pelindung sejati seorang wanita, dan jika ia yang tidak mempunyai seorang suami—walaupun ia memakai pakaian yang berharga seribu keping uang—tetap seperti telanjang dan tidak berpakaian.”

(Dan untuk menguatkan kebenaran ini, Sutta berikut ini sebaiknya diucapkan di sini: —

Cerita Jataka - SĀKETA-JĀTAKA

“Kepada orang yang pikiranmu merasakan ketenangan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Hutan Anjana (Añjana), mengenai seorang brahmana. Menurut kisah yang disampaikan secara turun-temurun; ketika Bhagawan dengan para siswanya sedang memasuki Kota Saketa (Sāketa), seorang brahmana tua dari tempat tersebut, yang hendak pergi ke luar, bertemu dengan beliau di gerbang kota. Setelah bersujud kepada Bhagawan, dan memegang pergelangan kakinya dengan penuh hormat, pria tua itu berseru, “Nak, bukankah adalah kewajiban anak-anak untuk membahagiakan hari tua orang tua mereka? Mengapa engkau tidak mengizinkan kami untuk menemuimu selama ini? Akhirnya saya bisa bertemu denganmu; mari, biar ibumu melihatmu juga.”
Setelah berkata demikian, ia membawa Sang Guru ke rumahnya; di sana, Sang Guru duduk di tempat duduk yang disiapkan untuknya, dengan para siswanya berada di sekelilingnya. Kemudian datanglah istri brahmana itu, dan ia juga bersujud kepada Sang Guru, berseru, “Anakku, ke manakah engkau pergi selama ini? Bukankah adalah kewajiban anak-anak untuk menyenangkan hari tua orang tua mereka?” Ia kemudian memanggil semua anak laki-laki dan anak perempuannya bahwa saudara mereka telah datang, dan menyuruh mereka memberi penghormatan kepada Bhagawan.

Cerita Jataka - VISAVANTA-JĀTAKA

“Memalukan jika,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai Sariputta (Sāriputta), Panglima Dhamma. Menurut kisah yang diceritakan secara turun-temurun; pada masa itu, Sariputta Thera sangat suka makan kue yang terbuat dari tepung, (sehingga) para penduduk datang ke wihara dengan membawa sejumlah kue tersebut kepada Sanggha. Setelah semua bhikkhu makan bagian mereka, masih banyak kue yang tersisa; dan para pemberi derma berkata, “Bhante, ambillah sebagian untuk mereka juga yang sedang pergi ke dusun.”
Saat itu, seorang anak muda yang merupakan murid pendamping (saddhivihārika) Sariputta Thera sedang pergi ke dusun. Mereka menyisihkan satu bagian untuknya; tetapi, karena ia belum juga kembali sementara hari hampir siang, maka bagiannya diberikan kepada Sariputta Thera. Ketika bagian itu telah dimakan Sariputta Thera, anak muda itu tiba. Karena itu, Sariputta Thera menjelaskan hal tersebut kepadanya, “Awuso, saya telah memakan kue yang sebenarnya disisihkan untukmu.”
“Ah!” jawabnya tidak senang, “Bhante, kita semua juga suka makanan yang manis.” Sariputta Thera merasa sangat bersalah.
“Mulai hari ini,” ia berseru, “saya bertekad tidak akan pernah memakan kue tepung lagi.” Dan mulai saat itu, menurut kisah yang diceritakan secara turun-temurun; Sariputta Thera tidak pernah menyentuh kue tepung lagi. Pantangan ini diketahui secara umum di kalangan Sanggha. Dan saat para bhikkhu duduk membicarakan hal tersebut di Balai Kebenaran, Sang
Guru bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan, para Bhikkhu, dengan duduk bersama di sini?” Setelah mereka menceritakan hal tersebut, beliau berkata, “Para bhikkhu, sekali Sariputta melepaskan sesuatu, ia tidak akan pernah mengambilnya lagi, walaupun nyawanya menjadi taruhan.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, beliau menceritakan kisah kelahiran lampau ini:
____________________

Cerita Jataka - KUDDĀLA-JĀTAKA

“Penaklukan,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang Thera yang bernama Cittahattha-Sariputta (Cittahattha -Sāriputta ).
Dikatakan semasa mudanya, ia berasal dari sebuah keluarga yang baik di Sawatthi. Suatu hari, saat dalam perjalanan pulang setelah membajak (tanah), ia berkunjung ke wihara. Di sana ia menerima makanan bagus yang lezat dan manis rasanya dari patta seorang bhikkhu sepuh (Thera), yang membuatnya berpikir, “Meskipun siang dan malam saya bekerja keras dengan kedua tangan mengerjakan berbagai macam pekerjaan, belum pernah saya menikmati makanan yang begitu enak. Saya harus menjadi seorang bhikkhu.” Maka ia menjadi anggota Sanggha; tetapi, setelah enam minggu berusaha dengan giat menerapkan perenungan yang mulia, ia dikuasai nafsu dan pergi dari sana. Karena menginginkan makanan bagus, ia kembali menjadi anggota Sanggha sekali lagi, dan mempelajari Abhidhamma.
Dengan cara seperti itu, ia keluar dan kembali menjadi anggota Sanggha sebanyak enam kali; tetapi, saat untuk yang ketujuh kalinya ia menjadi bhikkhu, ia menguasai keseluruhan tujuh kitab dari Abhidhamma. Dengan membaca lebih banyak Dhamma kebhikkhuan, ia mendapatkan kebijaksanaan dari hasil meditasi dan mencapai kearahatan. Ketika itu rekan-rekannya, sesama bhikkhu, mengejeknya, “Sanggupkah, Awuso Cittahattha, nafsu dilenyapkan dalam batinmu?”
“Awuso,” jawabnya, “mulai sekarang dan seterusnya saya telah melampaui kehidupan duniawi.”

Cerita Buddhist - Kisah Raja Angsa Emas

            Beribu-ribu tahun sebelum Sang Buddha hidup di dunia, sukamanya disebut SANG MAHA AGUNG, lahir sebagai Raja Angsa di danau Manasa. Danau itu sangat indah, tiada bandinganya di seluruh dunia. Airnya jernih, dan beraneka warna bunga-bunga yang cantik menambah keindahan danau itu. Dan yang tercantik di antaranya ialah bunga teratai merah dan putih.

Raja Angsa mempunyai sahabat karib dan pembantu yang setia, bernama Sumukkha. Bersama kawannya ini ia memerintah rakyat dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya terdiri dari angsa-angsa yang berdiam di danau Manasa, tak terhitung banyaknya. Karena keagungan budi, maka kedua kawan itu dijunjung tinggi oleh rakyatnya dan kemashuran mereka jauh melintasi tapal batas kerajaan. Lagi pula mereka memiliki bulu yang berkilau-kilauan bagaikan emas yang sangat mengagumkan.


Berita tentang keindahan angsa-angsa itu akhirnya sampai di kota Banaras, hingga pada Baginda Raja. Timbullah hasrat Baginda untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan angsa-angsa yang luar biasa itu.
Tetapi hal itu tidaklah mudah, sekalipun Baginda adalah seorang Raja yang berkuasa. Bagaimanakah akal Baginda supaya maksudnya tercapai? 

Cerita Buddhist - Kisah Seekor Anak Burung Puyuh

            Sebuah cerita tentang makhluk yang terhindar dari bahaya maut, karena menjalankan ahimsa
Terlebih dahulu akan diterangkan apa yang dimaksud dengan AHIMSA. Seorang yang menjalankan ahimsa itu suci hatinya. Ia tidak boleh menyakiti atau membunuh sesama makhluk. Dan orang suci itu tertentu akan mendapatkan pahala.
Demikianlah, pada suatu ketika Sang odhisattva turun ke dunia ini sebagai seekor anak burung puyuh. Ia tinggal bersama-sama dengan saudara-saudaranya di sebuah sarang di dalam semak-semak. Saudara-saudaranya bertambah hari bertambah gemuk dan kuat. Sebaliknya ia sendiri tidak menjadi besar dan sayapnya sangat lemah. Apa yang menyebabkan demikian menyedihkan keadaan dirinya?

Ayah dan ibunya mengasuh anak-anaknya dengan baik. Mereka diberi makan secukupnya tanpa ada yang dikecualikan. Seharusnya ia juga menjadi besar dan kuat, seperti saudara-saudaranya.
Sebabnya adalah ia merupakan penjelmaan dari Sang Bodhisattva. Dan karena ia akan menjadi Buddha di kemudian hari, maka ia mempelajari AJARAN SUCI dengan sepenuh hati. Dengan sendirinya ia menaati segala ketentuan-ketentuan dan perintah-perintah dari ahimsa. Ini berarti, ia tidak makan apa yang diberikan ayah, ibu dan saudara-saudaranya yang berupa cacing, kumbang, dan binatang-binatang kecil lainnya. 
Pada suatu hari timbul kebakaran hebat dalam hutan di dekat tempat tinggal keluarga burung puyuh itu. Semua burung dan binatang penghuni hutan itu sangat terkejut dan dalam keadaan kacau balau mereka melarikan diri, agar terhindar dari bahaya maut. Hanya anak burung puyuh itu yang tidak dapat melarikan diri karena sayapnya masih lemah.
Nyala api makin bertambah besar menjilat-jilat kian-kemari, membakar pohon-pohon semak-semak dan tempat tinggal binatang-binatang hutan yang lain. Ayah, ibu dan saudara-saudaranya sudah terbang semua meninggalkannya seorang diri di sarang.